Akhir-akhir ini banyak pejabat, mantan pejabat dan wakil rakyat yang diseret ke pengadilan oleh KPK karena kasus korupsi di masa lalu ataupun baru-baru saja. Ini membanggakan sekaligus memprihatinkan. Membanggakan karena penegakan hukum sudah mulai berjalan baik di negeri ini. Memprihatinkan karena yang terkena kasus adalah orang-orang di masa lalu yang terpandang. Yah, manusia…

Lepas dari semua kasus yang kita lihat dengar dan baca akhir-akhir ini, ternyata penilaian saya tentang korupsi menjadi terkoreksi karena beberapa kejadian. Apakah itu?

Remeh, sederhana dan sepintas lalu terkesan lumrah, namun cukup menggelitik untuk ditulis. Kejadiannya mungkin pernah juga dialami orang lain. Korupsi kecil-kecilan mungkin itu sebutan yang cukup heboh. Hehe. Pernah merasa uang kembalian belanja atau uang jasa kita kurang?

Tentu pernah bukan?. Saya mengalaminya tidak cuma sekali bahkan beberapa kali. Beberapa “kasus” antara lain :

1. Uang kembalian warnet yang tidak sesuai dengan billing (dibulatkan ke atas tentunya)

2. Uang kembalian bensin eceran yang karena BBM naik tidak lagi bulat Rp 5.000,-

3. Uang kembalian parkir

4. Uang kembalian belanja di toko (dengan harga berkoma-koma)

5. Tarif sms yag tidak transparan dll…

Sepele bukan? secara nominal tentu tidak besar dan terkesan tidak berharga. kadang pun saya tidak terlalu hirau untuk mengingatkan dan mengikhlaskannya.

Namun, ada yang mengganjal tentang itu semua. Bukan…bukan masalah kehilangan beberapa receh uang untuk kerikan =)! Tapi hal lain…

Saya selalu berpikir bahwa korupsi itu dilakukan olah para pejabat, orang-orang yang dekat dengan kekuasaan dan semacamnya. Sementara di pihak lain orang-orang bawah adalah yang teraniaya, terdzolimi. Slogan-slogan sosialisme seakan mensucikan kaum proletar dari dosa bernama korupsi.

Tapi, hey!!! tunggu dulu. Kenapa kenyataan akhir-akhir ini seperti kejadian di atas?

Saya juga tidak tahu apakah ini juga digolongkan dari sub spesies korupsi baru?

Yah setiap orang ternyata tidak lepas dari khilaf itu saja akhirnya kesimpulan saya. (Lho kok cuma gitu?)

Lha ndak tau juga saya je..hehe