Penjelajahan kulanjutkan lagi menuju rak novel dan fiksi. Kutemukan sebentuk novel cukup tebal, 300 an halaman. Covernya menarik, hitam dengan gaya klasik, semacam roman dari era revolusi (dilihat dari sepeda antik yang ikut nampang di cover). Hmm…eye catching covernya. Judulnya apa ya, hmm judulnya emboss dengan warna silver…”de Winst”? bahasa apa pula ini? Jerman atau belanda?. Hmm semakin antusias, apalagi ada tagline “sebuah novel pembangkit idealisme”.
Hmm tentang apa ya?

Ternyata terbitan indiva media kreasi, baru tahu namanya, ternyata masuk lini penerbitan FLP (forum lingkar pena). Penulisnya, Afifah Afra. Baru tahu juga namanya. Hmm menarikkah?

Kutenggelam ke dalam novel ini. Membaca buku ini kita dibawa menuju ke masa pra kemerdekaan. Tepatnya 1930-an. Dikisahkan tentang seorang bangsawan keraton Surakarta, RM Rangga Puruhita yang baru saja kembali dari Belanda dan membawa gelar sarjana ekonomi dari Universiteit Leiden.
Sekembalinya dari Leiden, ia dihadapkan pada berbagai hal pelik. Aturan kebangsawanan yang ribet belum lagi perjodohan dengan Rr. Sekar Prembayun yang juga dari kerabat ningrat.
Untuk menambah ruwet permasalahan, adalah gaji buruh pabrik gula yang sangat rendah. Jiwa nasionalismenya terusik.
Sewaktu di kapal yang membawanya dari Belanda menuju Batavia, ia berkenalan dengan seorang belanda totok bernama Everdine Kareen Spinoza.Rangga Puruhita jatuh cinta kepadanya.

Sekembalinya di Solo, RM Rangga pun bertemu sosok pemuda misterius yang mengaku bernama Kresna. Bahkan ia mengaku sebagai kekasih Sekar. Konflik pun berlanjut dengan persinggungan ideologis antara tokoh-tokohnya. Rangga pun tersulut semangatnya untuk melawan ketidakadilan kaum kolonial Belanda.

Novel yang mengusung tema yang hampir mirip dengan novel klasik tentang sejarah pergerakan kemerdekaan. Kisah cinta segitiga yang kait mengait berkelindan dengan ideologi dan suasana sosial waktu itu.

Tema yang ditawarkan sebenarnya tidak terlalu baru, yaitu protogonis yang mencintai wanita dari golongan antagonis. Lalu terlibat cinta segitiga.

Namun yang menarik dari novel ini adalah adanya wawasan baru kepada pembaca mengenai gambaran kondisi Indonesia pra kemerdekaan. Transisi dari kolonial menuju politik etis pun mengemuka. Menjadi menarik dengan latar belakang kehidupan buruh tebu. Industri yang cukup memperkaya Belanda waktu itu. Di samping juga wirausahawan batik Solo yang ternyata cukup memiliki kekayaan yang besar waktu itu.

Secara keseluruhan cukup menarik, namun ada beberapa bagian yang mengganggu, misalnya penggunaan kata “elan’ yang diulang-ulang pleh penulis. Bangunan misteri tentang Kresna yang terlalu rapuh, sehingga pembaca di awal-awal cerita pun bisa menebak. Apalagi pengulangan ciri khusus Kresna yang bukannya menjadi kunci bagi identitas Kresna, malahan seakan mengganggu.

Andai saja penulis lebih mengeksplorasi dan melakukan riset yang lebih mendalam tentang Solo dan perusahaan gula, tentu latar kisah ini akan semakin kuat. Tentunya bukan lantas menjadikan novel ini buku sejarah, tapi sejarah yang dinovelkan bukankah akan lebih gampang dikunyah?