Pembicaraan imajinatif antar mahasiswa dengan data realistis berlanjut ….

B : eh ngomongin e-learn ini kok jadi terusik membicarakan implementasinya. Menurutmu gimana dengan Indonesia Gun?

G : Mm Indonesia memang baru berjuang Ben, kalo aku baca dari kominfo tahun 2005 situs e-learning baru ada 1 yang terdaftar. Tapi kondisi sekarang mungkin sudah sangat banyak yg bermunculan.
B : Oh iya di UGM sendiri kan kita punya e-Lisa. ?

Monyet lagi e-learning Evolusi :p

(gambar dari Cybersalt.org)

Weh mas-mas ini dah mau lulus trus mbahas mbak Lisa nih ye!, Dalijo menyela. Emang bempernya oke banget tuwh! (Lisa adalah cewek KG yang kos deket angkringan)

B &G : wuu! kang Dalijo ini lho, orang kita sedang ngomongin pembelajaran kok malah sampe jeng Lisa. Haha tapi emang bener.

G : Hehe, lanjut lagi ben, iya tuh udah ada e-Lisa tapi yang ngakses ya belum banyak. Visi dari dosen kadang ga nyampe ke mahasiswa ya. Budayanya belum terbentuk.

B : Iya itu Gun, malahan forum seperti Kaskus itu yang ada potensi e-learn. Di jurusanku pernah ada tu dosen yang ngasih tugas dan ngumpulinnya via e-mail. Tapi yang terjadi malah copy paste.

B : Menurutmu pembelajaran e-learning dalam hal media internet ini apa saja ?
G : oh banyak, kalau dari pendapatku bisa lewat forum diskusi, komunitas mailing list, blog semacam kafe motor, web-based seperti biasanya, e-mail dan bahkan chatting dengan YM.

B : Hmm iya ya kadang kita diskusi linux atau web design juga lewat YM ya Gun. Tapi masih aja belum terlalu maju

G : hmm iya menurutku ada beberapa hambatan e-learning itu. Yang paling sering diungkapkan adalah sarana.

G : Menurutku semua itu ada dimensi teknologi dan personal.

B : Iya, apa aja Gun?

G : Kalo dari personalnya adalah :
1. penguasaan teknologi Internet
2. budaya penggunaan internet
3. budaya mengungkapkan gagasan
4. kebutuhan komunal

B : bisa dijelaskan Gun ?

G : Iya, dari segi skill ineternet seharusnya sudah menjadi gaya hidup mahasiswa, apalagi sudah relatif banyak warnet dengan tarif relatif murah.

B : hmm ya ya, tapi banyak juga yang belum mengetahui layanan2 nya mereka sebatas chatting (63 %) dan e-mail (93,3%), aku mengacu ke jurnal mahasiswa UGM.

G : Kedua, pola penggunaan internet yang tidak edukatif lebih ke arah hiburan. jurnal mahasiswa UGM pernah mengadakan survey semacam ini lihat di sini (sambil menunjuk notebook yang dibawanya).

(dikutip dari Jurnal Mahasiswa UGM)

B : wah banyak juga ya..he tapi memang kalau belum menemukan manfaatnya para netter paling terjebak ke social network kaya friendster, chatting dengan temannya di kota lain atau malah tenggelam ke lautan pornografi.

G : Persis!

B :Eh disambi dulu Gun kacang e. lanjutkan lagi… Menurutmu adakah kaitan tingkat kesejahteraan dengan penguasaan internet itu tadi?

“Kang, sego teri nya masih gak?” teriak Bento pada Dalijo.

G : pastinya, tapi dari survey Jurnal itu juga, tidak ada korelasi antara pendapatan dengan penggunaan internet.

B : ehm…trus

G : Aku lanjutin ke sebab berikutnya, yaitu kemampuan mengungkapkan gagasan. Di internet ijazah formal tidak terlalu penting, yang penting skill dan kemampuan mereka. Pak Onno W. Purbo pernah mengatakan ini. Konsensus komunitas maya yang akn menentukan eksistensi seseorang di Internet berbeda dengan dunia nyata yang lebih ke bukti tertulis berupa ijazah formal. Kultur di sini adalah budaya lisan, semua lebih mantap kalau secara mulut ke mulut. Penguasaan mahasiswa terhadap penyampaian gagasan melalui format tulisan yang rapi dan sistematis masih perlu ditingkatkan.

B : Wah menarik uraianmu, tapi kita makan dulu nih mulai pusing mendengar bahasamu.

G : hehe, yuk, sate usus dibakar kang Dalijo!

Dan dua sahabat itupun menikmati menu malam mereka dengan lahap.

G : eh ben, tak sambil mbahas yang terakhir ya, soal budaya komunal. Indonesia terkenal dengan budaya komunitas yang guyub. belajar pun lebih menyenangkan kalau dalam satu kumpulan orang. Orang indonesia tidak suka terasing. padahal dengan distance learning, mereka cenderung individual dan mandiri

B : betul juga. Tapi sebagai komplemen menurutku bagus sekali.

G : masalah klasik yang kerap dilontarkan adalah sarana. Akses telepon belum merata.

B : Betul sekali tapi kita juga positive thinking dengan pemerintah. ada INHERENT (Indonesia Higher Education Network) yang menghubungkan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dengan backbone fiber optic.

B : Masalah ketersediaan hardware bagaimana?

G : tahu kan Bill Gates datang di Indonesia tempo hari? dia ngasih windows gratis buat sekolahan. tapi pastinya ada hidden motive di baliknya.

B : Iya juga, padahal kita kan punya IGOS, Indonesia Goes Open Source dan distro linux yang banyak dimodif oleh orang kita sendiri. Kenapa tidak pakai itu saja?

G : Iya. Ini juga masalah interoperabilitas antar platform yang masih menjadi kekurangan aplikasi Linux based. Tapi yang penting mind set nya untuk memakai software legal belum tebentuk. Faktor kebiasaan juga ikut berpengaruh.

B : He eh. yang sering menjadi masalah klasik penetrasi internet adalah infrastruktur. Ini liat data aksesibilitas telpon di daerah di tahun 2003.

(dari Bisnis Indonesia, Mei 2003)

G : Iya itu hambatan dari segi teknologi. Tapi pengguna internet di Indonesia terus mengalami kenaikan kok. Tahun 2005, menurut Pak Onno ada sekitar 10 juta pengguna.
sebagai pembanding di Taiwan dan Hongkong yang masing-masing 40 persen dan 26,7 persen dari jumlah rumah tangga (Newsbyte, 2001). Contoh lainnya adalah di China yang berpenduduk lebih dari satu milyar telah memiliki tidak kurang dari 24 juta pemakai internet.

G : Kebanyakan berkembang karena sektor swasta yang banyak membuka warnet. Yang perlu dipertanyakan adalah peran pemerintah.

B : Iya juga

B : Eh coba Lik Dalijo kenal internet ya, dia bisa belajar menu baru, jadi pembeli kaya kita ini tetep terpenuhi gizinya.

G : Ayak, makan aja ceker eyem, gizi dari timbuktu apa.

B : Ha haha

Lik Dalijo : Eh mas-mas, maaf ya ini kan BBM naik besok saya naikkan juga sego kucing dan gorengannya…

B & G : Haaaa….