(Personal Illustration of Benykla)

Semenjak beberapa tahun terakhir ini isu tentang Global Warming telah akrab dengan kehidupan sehari-hari kita. Ini tidak lepas dari kampanye yang intens dari media yang care terhadap bumi kita ini (Meskipun masih ada polemik tentang iklim global)

(from http://www.heartland.org)

Pemanasan global seperti telah kita tahu bersama yaitu meningkatnya suhu bumi secara global karena pengaruh efek rumah kaca. Kalau belum tahu juga, efek rumah kaca ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan  peristiwa terperangkapnya panas matahari di atmosfer bumi.

Lebih jelasnya begini :
Secara normal ini yah 50 % radiasi matahari diserap oleh laut dan permukaan planet kita tercinta. Sekitar 20 % menghangatkan atmosfer dan sisanya 30 % dipantulkan kembali ke luar angkasa oleh awan dan lapisan es di kutub. Proses alami ini membuat kestabilan iklim yang memungkinkan kehidupan berkembang di bumi. Nah, gas rumah kaca yaitu karbondioksida, metan dan ozone mengganggu keseimbangan ini, mereka dengan gembira menahan pelepasan kembali radiasi panas ke luar angkasa.  Mereka juga menyerap panas dan menjaganya di atmosfer. Inilah yang mengakibatkan panasnya iklim.

Oo.. begitu, lalu kenapa?
Kenapa? Ya pastinya ada efeknya dong! Pemanasan ini membawa efek negatif pada ekosistem dan keseimbangan iklim global. Sebagai contoh, melelehnya es di kutub membuat hewan-hewan di kutub kehilangan kenyamanan habitatnya. Lalu ada juga gangguan pada suplai dan jejaring makanan di laut. Kok bisa begitu? Iya, karena plankton yang ada di laut akan mati karena suhu laut yang menghangat. Hmm…efeknya dong, pastinya ikan-ikan akan kekurangan makanan. Sudah belajar tentang piramida makanan bukan? Nah bisa dibayangkan efek katastropik dari kurangnya suplai makanan para predator kan?
Tidak cukup dengan itu saja, perubahan iklim juga mengancam suplai makanan manusia. Seperti kita rasakan akhir-akhir ini cuaca sering tidak menentu, ini akan berpengaruh pada hasil panen. Ketahanan pangan negara terancam dan berpengaruh pada ekonomi.
Nah perlu sekali upaya-upaya untuk menjaga kestabilan iklim global. Iklim yang optimal bagi kehidupan untuk lestari di bumi.

Hmmm… ngeri ngeri efeknya. Lalu apa hubungan judul dengan ini semua? Apa hubungan seorang biker dengan iklim. Hmm pastinya ada dong. Biker, para penunggang sepedamotor kan menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber tenaga bagi motornya. Tidak sadar kita telah ikut menyumbang gas karbondioksida hasil dari pembakaran bensin di dalam mesin kita. Mulai sekarang kita harus berusaha peduli pada Global warming, karena efeknya bisa kita rasakan. Bersepeda motor di siang hari sekarang ini tidak nyaman dan perih di kulit karena panas. Efek lebih jauhnya UV dari matahari memicu kanker kulit.

Lalu tindakan apa yang bisa kaum biker lakukan? Tidak mungkin kan menghentikan aktivitas berkendara?
Betul sekali! Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mencermati tentang efisiensi pemakaian bahan-bakar.
Fueleconomy.gov memaparkan bahwa hanya sekitar 15 % energi bahan bakar yang digunakan untuk menjalankan kendaraan di jalan. Bisa dilihat di gambar di bawah ini… (Contoh pada mobil)

(Image from fueleconomy.gov)

Nah, bisa dilihat kan 17,2 % energi hilang karena standby/idle. Maka upaya yang kita lakukan adalah mengurangi proses idle ini. Contoh idle ini adalah pada saat berhenti di lampu lalu lintas, sewaktu memanaskan mesin di pagi hari dan berhenti di perlintasan kereta api. Kita bisa berusaha mematikan motor kita saat berhenti terlalu lama atau saat menunggu lampu hijau. Meskipun sedikit, namun apabila dikalikan dengan misalnya 10 juta saja biker Indonesia, tentu akan cukup signifikan. Secara ekonomis 10 % dari bensin adalah Rp 600,-. Dari segi penghematan pasokan bensin juga cukup besar.

Selain itu memilih sepedamotor yang masih berusia muda, efisien dan menggunakan injeksi bahan bakar juga pilihan yang bijak.

Menghemat biaya dan menjaga bumi tetap dingin!
Bikers Alert for Climate Security!
ACT NOW!