Seperti ditulis sebelumnya, catatan perjalanan yang diposting d blog ini tidak urut berdasar waktu. Catatan kali ini tentang perjalanan ke Sarangan.

sarangan

===========================================

Waktu :

18 Maret 2007

Keperluan :

Kondangan d Nikahan Natsir

Tujuan :

Sarangan, Jawa Timur

Rute :

Yogyakarta – Klaten – Sragen – Karanganyar – Tawangmangu – Telaga Sarangan – Magetan – Ngawi – Sragen – Klaten

Tim : Aris, Sigit, Antok, Kurniadi, Ayik, Widi

===========================================

Klaten

Aku menunggu temen-temen yang berangkat dari Jogja di Ngaran, beberapa ratus meter ke timur dari tugu batas kota Klaten. Sekitar 6.30 pagi

Sragen

Rombongan berangkat menuju acara nikahan Natsir di Sragen. Sekitar jam 10 an kami mengikuti acara sampai waktu zuhur. Waktu itu sebenarnya mau langsung pulang, tapi terbujuk juga ajakan temen-temen ke tawangmangu.

Sedikit tentang Sragen, Kabupaten ini dulu bernama Sukowati, nama yang digunakan sejak masa kekuasaan Kerajaan (Kasunanan) Surakarta.

Obyek terkenal dari daerah ini adalah Sangiran.

Kawasan Sangiran merupakan tempat ditemukannya fosil manusia purba dan binatang purba, yang sebagian disimpan di Museum Fosil Sangiran.

Pada 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian. Hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus (“Manusia Jawa”). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut. kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah (2 juta tahun – 200.000 tahun lalu)

Karanganyar

Perjalanan ke selatan dari rumah mempelai wanita menuju daerah Karanganyar. Sejarah mencatat di dekat kota Karanganyar (tepatnya di Desa Janti) berlokasi tempat penandatanganan Perjanjian Giyanti. Pada 13 Februari 1755, ditandatangani perjanjian yang menandai awalnya kolonialisme VOC dan Belanda di bumi Mataram dan terbaginya Mataram menjadi dua, Yogyakarta dan Surakarta.

jalanan

Kami beristirahat untuk solat zuhur. Belum mengetahui arah, kami hanya mengandalkan naluri untuk mengikuti topografi jalan yang menanjak danbertanya pada penduduk setempat. Setelah beberapa lama kami mulai melintasi jalanan di pegunungan yang sangat indah dengan hamparan kebun teh yang menghijau. Kami menjumpai penunjuk arah menuju candi bernama candi cetho di sebuah puncak bukit.

Candi Cetho yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah barat masuk di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dikelilingi kelebatan rimba dan sejuknya udara kebun teh Kemuning.

Candi Cetho merupakan sebuah candi peninggalan budaya Hindu dari abad ke-14 pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Fungsi candi ini tidaklah berbeda dengan candi Hindu yang lain yakni sebagai tempat pemujaan. Sampai saat inipun Candi Cetho tetap digunakan oleh penduduk sekitar yang memang merupakan penganut agama Hindu. Kami sempat mengambil gambar di daerah kebun teh yang mempesona ini. Waktu yang terbatas membuat kami tidak bisa singgah di candi ini.

Tawangmangu

Jalanan semakin curam dan tinggi menanjak. Motor kami menggerung tanda bekerja keras melawan gravitasi. Beberapa kali para boncenger terpaksa turun dari jok dan berjalan. Benar-benar tanjakan tertinggi dalam touring sepeda motor yang pernah kulakukan. Segala susah payah ini terbayar dengan pemandangan indah, hutan pinus berkabut dan hamparan tanaman sayur yang membentang. Melewati beberapa tanjakan turunan, berkelok dan berkutat dengan rem dan gas, sampailah kami ke Tawangmangu. Melihat bus-bus besar menari-nari d jalanan berkelok di depan kami cukup membuat ngeri.

Tawangmangu adalah obyek wisata dengan air terjun terkenal, Air Terjun Grojogansewu (tinggi 65 m). Karunia Tuhan yang indah ini terletak di lereng Gunung Lawu (3.265 m) terletak , tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sedikit tentang Lawu, status gunung ini adalah gunung api “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara).

Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.

Gunung Lawu memiliki dua puncak, Puncak Hargo Dalem dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu yang kami lewati, Cemorosewu, dan Sarangan.

Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto

Cemorosewu

Memutuskan untuk terus, kami meninggalkan Tawangmangu dan terus menyusuri jalan menanjak kembali. Di perjalanan kami jumpai rekan biker dari klub vespa yang beristirahat di tepi jalan. Sampailah akhirnya kami di Cemorosewu. Tempat ini adalah basecamp bagi para pendaki gunung. Pendakian standar Lawu dapat dimulai dari dua tempat (basecamp):

Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200m.

Pasca cemorosewu, jalanan curam menurun sehingga kami harus ekstra hati-hati dan menekan tuas rem terus menerus. Fyuuu…bener-bener pegel di tangan.

Telaga Sarangan

Akhirnya dengan penuh perjuangan, sampailah kami di tujuan…. Telaga Sarangan! Sampai di tempat ini aku kaget karena rem depan seakan-akan blong. Sempat kuatir jangan-jangan rem rusak karena dipaksa bekerja keras. Baru setelah beberapa lama rem bisa berfungsi kembali. Mungkin minyak di kaliper rem habis dan belum mengalir dari reservoir. Fuhhh Alhamdulillah.

Telaga Sarangan (1000 m dpl) terletak di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Aku mengunjungi tempat ini sewaktu SD atau malah pra SD bersama bapak, ibu dan masku. Hidangan khas yang dijajakan di sekitar telaga adalah sate kelinci. Hal yang paling kuingat waktu itu adalah aku sempat naik kuda keliling telaga, ternyata sampai saat ini masih ada yang menyewakan kuda untuk mengelilingi telaga. Nostalgia.

three2

Kami beristirahat beberapa lama dan mengelilingi telaga. Kabut tipis menyelimuti hutan pinus di lereng bukit, sementara wisatawan asyik menikmati telaga dengan kapal motor. Hmm indah….Tak terasa sudah jam 14.00, kami harus segera pulang kalau tidak ingin kemalaman.

Magetan

ares5

Setelah melewati medan yang sulit dalam perjalanan berangkat, kami memutuskan akan pulang lewat timur. Ini berarti lewat Jawa Timur! Yah, after all kami kan sudah di wilayah Magetan🙂. Touring lintas propinsi deh jadinya.

antox

Bandara Iswahyudi, salah satu pangkalan utama Angkatan Udara RI di kawasan Indonesia Timur, terletak di kecamatan Maospati.

Tokoh Dokter Sardjito Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada merupakan putra daerah ini.

Ngawi

Kami ingin mampir di rumah ayik, maka mampirlah kami ke Pabrik Gula dan juga kompleks perumahan karyawan. Sayangnya ortu-nya sedang pergi, jadi kami tidak bisa mengaso di rumahnya. Sore menjelang, kamipun solat asar di masjid terdekat. Perjalanan pulang cukup membuat gerah, karena melewati jalan antar propinsi yang panas dan berdebu.

Sampai di Ngawi, jalanana mulai sedikit akrab karena pernah lewat sewaktu perjalanan ke kediaman bulik di Nganjuk.

Pondok Pesantren Gontor Putri 1 dan Pondok Pesantren Gontor Putri 2 dan 3 terdapat di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, yakni di dekat perbatasan dengan Jawa Tengah.

Kami pun ngebut dengan kecepatan tinggi di tengah hutan jati. Untung jalanan halus dan bebas hambatan sehingga motor bisa digeber. Cuaca mendung dan sedikit gerimis dan suasana senja mewarnai perjalanan pulang kami. Dalam hati berdoa, agar ban-ban motor kami tidak kenapa-napa (soalnya mana ada sih penambal ban di tengah hutan jati seperti ini).

Objek yang belum sempat kukunjungi adalah Situs purbakala Trinil yang menyimpan fosil phytecantropus erectus (Manusia kera berjalan tegak) pertama kali di temukan oleh arkeolog Belanda bernama Eugene Debois.

Tokoh nasional dan tokoh UGM Umar Kayam lahir di daerah ini.

Setelah Sragen dan Solo, sampailah kami di Klaten. Alhamdulillah selamat dan tidak terjadi apa-apa. Mampirlah kami di rumahku, makan malam. Sebuah perjalanan yang kelak akan selalu kami kenang.

Sekitar jam 6 sore di Klaten.