Bulan Juni, bulan yang istimewa. Banyak tokoh republik yang lahir di bulan ini.
Seorang di antaranya adalah Bapak kita Soekarno.
Kita akan berusaha mengenal beliau lebih dekat, bukan hanya sebagai sosok pemimpin,

namun juga sebagai seorang manusia.

Cerita kita mulai pada Sabtu 11 Juni. Sepulang dari central park, membeli batere

laptop, awalnya ingin mengunjungi Gedung Arsip Nasional, namun ternyata sedang

tutup karena digunakan untuk sebuah acara-mungkin pernikahan-yang aku kurang

tahu apa. Akhirnya selepas solat zuhur, aku memutuskan mengunjungi Freedom

Institut Public Library. Perpustakaan ini letaknya di samping monumen

proklamasi, dekat Metropole. Kesan pertama, perpustakaannya cozy banget, adem

dan ada free wifi!!

Pertama, kupikir cukup untuk pendaftaran anggota dulu saja, sambil mengenal

lokasi. Hmm… tenang dan nyaman. Selesai mengisi form, coba lihat-lihat buku

dan asal saja ngambil biografi Sukarno. Judulnya “Sukarno, an autobiography as

told to Cindy Adams” Hmm menarik nih, kebetulan pengen beli buku tentang sukarno

tapi belum nemu yang pas.


An autobiography, pikirku tentu menarik karena diceritakan oleh si empunya

hidup. Hmm… mari coba dibaca…
Bukunya cukup tebal dan berbahasa inggris. Mulai daftar isi, terlihat

penulisannya sistematis dan mengikuti fase-fase kehidupan sukarno. Mulai dari

kelahiran, masa sekolah, masa kuliah sampai juga ke masa Jepang.
Foto-foto tentang soekarno dikumpulkan mulai halaman 156…tidak tersebar di

berbagai  halaman. Foto yang paling menarik dan membuat sedikit tersenyum adalah

ketika beliau berkumis! Ya, sukarno berkumis, hmm baru sekali ini lihat.

Bagian awal buku ini berisi semacam penjelasan kenapa buku ini ditulis. Kita

dapat kenali sosok sukarno yang lain, sebagai manusia biasa yang merasa kesepian

di balik perannya sebagai pemimpin 100-an juta penduduk Indonesia kala itu.

Tentang minat dan kekagumannya pada wanita cantik, tentang kisahnya berkeliaran

dalam penyamaran untuk mengenal rakyatnya.

Chapter pertama
Berisi latar belakang Sukarno.
Sukarno sebagai putra sang fajar. Diawali dengan kisah ayah dan ibunya ketika

bertemu dan akan menikah. Kisah umum yang kita kenal, R. Sukemi sang ayah

menikah dengan Ida Ayu, seorang keturunan bangsawan bali.

Kisah percintaan ayah dan ibu Sukarno sendiri seperti sebuah epik. R. Sukemi

yang waktu itu jadi guru, biasa pergi ke sebuah air mancur (?) di bukunya

disebut fountain) untuk mencari ketenangan. Di sanalah ia bertemu dengan seorang

gadis Hindu, Ida Ayu.
R. Sukemi yang muslim mendapat penentangan dari keluarga Ida Ayu. Singkat

cerita, mereka akhirnya bisa menikah dan pindah ke Surabaya.

Kisah di dalam buku ini enak sekali dibaca, seakan kita sedang mendengarkan

sendiri kisah hidup Sukarno dari beliau langsung. Tentang mitos jawa, anak yang

lahir pada fajar akan menjadi istimewa. Dikaitkan dengan kelahirannya di tahun

1901 yang merupakan fajar baru abad 20. Semua jalin menjalin dengan mitos rasi

gemini yang menaungi kelahirannya.

Masa kecil Sukarno tidak terlalu bahagia. Ayahnya tidak cukup kaya untuk bisa

menghidupi keluarganya secara mewah. Ditulis bahwa kadang sukarno merasa sedih

ketika malam lebaran, ia tidak bisa seperti teman-temannya yang main kembang api

dan mendapat hadiah. Namun anugrah besar Sukarno barangkali ada pada diri sang

ayah. Ayahnya yang mantri guru selalu menyuruh sukarno kecil untuk belajar Ha-

Na-ca-ra-ka (abjad jawa) dan juga Alfabet.

Kisah menarik ketika kecil adalah ketika Sukarno yang sedang main panjat pohon

secara tidak sengaja menjatuhkan sarang burung. R. Sukemi marah besar dan

berkata “bukankah sudah diajarkan bahwa kita harus menyayangi makhluk Tuhan?”

mengutip kalimat sansekerta Tat Twam Asi…(lupa). Begitulah ayah Sukarno, tidak

saja mengajarkan ilmu secara umum, namun juga moral dan disiplin.

(bersambung)
Berhubung di hari sabtu perpustakaan cuma sampai jam 17.00 maka belum bisa

melanjutkan membaca. Mudah-mudahan selanjutnya bisa berkunjung lagi (hari kerja

bisa sampe 21.00)

Menyenangkan, akhirnya menemukan sanctuary di jakarta, selain Gramedia Matraman.

🙂