“Setelah..umur…6 tahun, aku dimasukkan…ke in..indlan..[indlandsche  school, mbah] di Mojokerto.”

Terbata-bata mbah kakungku mengeja caption foto Soekarno kecil di buku “Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat.” Meski tak lancar, aku cukup takjub dengan kemampuan membaca beliau yang sedang tidak menggunakan kacamata. Yah, sore itu akhir September 2012 selesai mencuci motor aku duduk berdua di teras bersama mbah kakung. Sudah lama aku tahu beliau mengidolakan Pak Karno. Waktu mudik seminggu ini kusempatkan membawa buku tebal biografi Soekarno untuk ditunjukkan ke Mbah kakung. Lebaran kemarin kami tidak pulang kampung, baru September ini kami bisa pulang.

Di teras rumah, ketika membincangkan tentang Sang Presiden pertama RI, sekilas kupandangi mbahku ini… pipinya yang cekung, kulitnya yang mengeriput dan badannya yang tak sekokoh dulu. Namun beliau cukup lancar  membaca caption di buku. Momen yang saat itu sebenarnya ingin kuabadikan namun kamera sedang tak ada di jangkauan. Tiba-tiba terbersit pikiran, kapan lagi bisa ngobrol dengan simbah seperti ini? Setahun lagi? Nanti pas lebaran? Apakah masih ada kesempatan?… Namun waktu itu cepat-cepat kutepiskan pikiran sendu itu… Tak disangka itu adalah sebuah firasat..

Minggu sore 7 oktober, mendung menggelayut di langit…seakan ikut meratapi meninggalnya mbah kakung. Usai menyolatkan jenazah hujan mendadak tercurah dari langit. Deras luar biasa sampai para takziah berhamburan berteduh. Tidak biasanya, hari-hari sebelumnya semua mengeluh kemarau panjang… air sumur mulai habis, para petani kehabisan uang untuk membayar pompa air. Namun sore itu hujan turun deras mengiringi pemakaman mbah kakung… Sugeng tindak Mbah Kakung Sanip Mulyowijoyo, simbahku yang sabar dan jenaka. Kami akan meneruskan cita-citamu. Semoga Allah lapangkan kubur panjenengan, mengampuni segenap dosa dan memberi tempat yang mulia di surga-Nya. Sekali lagi sugeng tindak…

 

(foto diambil April 2012, beberapa bulan sebelum beliau wafat)