Suatu malam di sebuah kos-kosan karyawan di Jakarta…

Listrik tiba-tiba mati! Gun dan Ben yang sedang asyik dengan ketikan dan siaran sepakbola histeris berbarengan. Menyebalkan ya jika tiba-tiba mati lampu? Komputer terancam rusak, tidak bisa menonton TV, ataupun aktivitas lain di malam hari. Yah, listrik kini telah menjadi kebutuhan pokok bagi kita. Hampir semua aktivitas memerlukannya. Meski begitu krusial ternyata  di Indonesia listrik masih sering bermasalah.
Kembali ke Gun dan Ben. Daripada bete, mereka sepakat menyambangi warung angkringan di depan kos sambil ngobrol.

“Wah gelap-gelapan, Jo!”, sapa Gun kepada Dalijo si pemilik warung.
“Wah iyo mas Gun, untung warung saya sustainable”, sahut Dalijo.
“Sustainable?”, heran Ben.
“Lha iya ini kan masak pake areng, renewable energy.”
“Haha gayamu Jo!!”, Ben dan Gun koor menyahut.

Warung angkringan Jo ini memang unik, karena pengunjung yang datang tidak sekedar makan tapi juga sambil ngobrol tentang berbagai isu menarik. Jo si pemilik warung pun kecipratan sedikit-sedikit tentang istilah-istilah baru.  Seperti malam ini, Ben dan Gun yang bete memilih menumpahkan kekesalannya di warung ini.

“Bener-bener payah nih, listrik tiba-tiba mati, tulisanku belum di-save. Mana UPS nggak kepasang. Kuatir jebol hardiskku.”
“Iya, sebel. Lagi nunggu penalti malah mati lampu. Payah!”

Sembari melahap gorengan mereka mengobrol.

“Masalah listrik banyak ya di Indonesia ini”, Ben  berucap.
“Iya, mulai dari pemadaman, kurangnya pasokan daya, reliabilitasnya rendah dan tarif yang sering naik.” Gun menimpali.
”Belum lagi masalah instalasi yang semrawut. Potensi kebakaran tuh, kayak yang udah-udah di Jakarta. Ya memang ini konsumennya juga sih, tapi semestinya PLN bisa ikut mengawasi.” Kata Ben.

Permasalahan Listrik Indonesia
Seperti yang dibincangkan oleh Ben dan Gun, berikut ini masalah listrik di Indonesia dan efeknya :

  1. Pemadaman, dapat diakibatkkan kekurangan daya, cuaca buruk ataupun infrastruktur semacam trafo yang sudah tua. Efeknya berupa ketidaknyamanan beraktivitas, menurunnya produktivitas (mesin produksi tidak bekerja, alat elektronik berpotensi rusak). Pada banyak kasus perusahaan terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk genset, UPS ataupun lampu emergency. Semisal di beberapa waralaba minimarket.
  2. TDL dan efek berantainya. PLN sebagai pengampu ketenagalistrikan di Indonesia dituntut sebagai perusahaan pelayanan dan penyedia  jasa untuk kepentingan umum. Di sisi lain biaya produksi  PLN masih begitu tinggi sehingga dengan tarif sekarang PLN tidak memiliki budget untuk investasi pembangkit-pembangkit baru. Tarif Dasar Listrik (TDL) menjadi  isu yang politis dan rawan bagi pemerintah sehingga cukup sulit disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan. TDL berefek ke produksi dan investasi, berefek ke infrastruktur dan akumulasinya adalah kekurangan daya.
  3. Pasokan bahan bakar. PLN dan pemerintah masih belum bersinergi dalam penyediaan bahan bakar bagi pembangkitnya sehingga sering terjadi kekurangan pasokan. Ujung-ujungnya adalah pemadaman juga.
  4. Rasio elektrifikasi. Wilayah Jawa Bali sudah cukup lumayan, namun untuk daerah lain masih cukup memprihatinkan. Pembangunan Listrik Perdesaan ini telah meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia dari sebesar 67,2% pada 2010 menjadi 72,95% pada tahun 2011 ini menurut  Sekjen ESDM Waryono Karno.
  5. Isu Nuklir yang tak kunjung usai. Kebutuhan listrik yang murah dengan nuklir sebenarnya sudah disadari, namun pada eksekusinya sangat sulit. Terjadi pertentangan yang besar tentang kemampuan anak negeri dalam menjalankan PLTN. Masalah ini diperburuk dengan stigma negatif pasca gempa Jepang yang menimpa pembangkit nuklir di Fukushima. Kebutuhan listrik semakin besar, migas semakin habis, nuklir tidak bisa disetujui. Sungguh berat
  6. Birokrasi dan Pungli. Meskipun kesadaran akan good governance dan semangat anti korupsi telah tumbuh di PLN,  namun pada praktek di lapangan masih sering terjadi pungutan liar dari beberapa oknum.
  7. Konsumen yang kurang bijak. Menimpakan seluruh permasalahan hanya pada PLN tidak adil, sebagai konsumen kita juga harus jujur dengan perilaku kita yang boros dan tidak bijak. Contohnya ; penggunaan AC berlebihan, tidak mematikan lampu , TV selalu nyala dan sebagainya.

“Banyak ya Gun masalahnya” kata Ben.
“Iya, ke depan padahal kebutuhan listrik akan semakin besar,” ujar Gun.
“Iya, kelas menengah meningkat, tingkat konsumsi barang elektronik naik, gadget makin banyak!.”

“Apalagi nanti kalau KRL ditambah, mobil listrik diluncurkan.” Ben menyahut.
“Ga kebayang ya kalau ga pakai nuklir, Ben. Kalau migas habis bagaimana?”
“Masih ada opsi energi alternatif kan Gun selain nuklir?” seru Ben.
“Iya, apalagi di Jepang sendiri sudah mulai ada unjuk rasa menentang nuklir, kaya foto yang gue tunjukin waktu itu di Meguro”

(dok. pribadi)

“Oh iya gue inget. Tapi di Jepang juga katamu sudah ada wind turbine”
“Iya beberapa. Nah energi alternatif cuma satu yang sulit dikembangin di sana, tenaga panas bumi.”
“Wahaha iya, pasti pemandian air panas pada nolak ide itu” Kekeh si Ben.
Yak, kita warga biasa cuma bisa berharap buat PLN Gun.

Ini harapan gue buat PLN :

  1. Reliabilitas PLN dan peningkatan elektrifikasi Sebagai penyedia tunggal listrik di Indonesia harus dapat diandalkan dengan pengurangan frekuensi pemadaman. Juga harus mencapai wilayah lebih luas.
  2. PLN bersih. Tidak ada pungutan liar, birokrasi mudah
  3. Tarif Wajar. Tarif terjangkau tapi bisa memenuhi biaya produksi sehingga tidak bisa ngeles lagi soal kekurangan profit.
  4. Sinergi PLN dan pemerintah. Manajemen PLN harus menyelesaikan isu pasokan BBM dengan pemerintah
  5. Pengembangan energi alternatif. PLN mendorong upaya-upaya pendidikan penyebaran pengetahuan dan inisiatif mengembangkan energi hijau dan berkelanjutan.
  6. Penataan instalasi. Nah ini yang sering gue lihat, kabel listrik semrawut dan bersinggungan dengan pepohonan. Ujung-ujungnya kalau ada cuaca buruk potensi terkena ranting atau dahan. Akibatnya mati lampu deh.
  7. Pemberitahuan pemadaman, harapannya sih ada pengumuman dulu jadi ada persiapan. Entah via pengumuman ke kompleks, atau sekarang lebih mudah dengan twitter.

“Yah mudah-mudahan makin baik deh listrik di Indonesia”
“Betul, apalagi listrik itu penggerak peradaban”

Sambil ngobrol ternyata  Dalijo si empunya warung turut menyimak.
“Mas Gun, mas Ben tadi ngomongin energi alternatif itu emang apa aja sih kalo di kita”
“Wah kamu dengerin juga ya Jo, ada banyak sih tapi beberapa masih belum feasible”
“Cheribel?” Kok ada cherybelle mas?” Heran si Dalijo.
“Wahaha bukan cherybelle feasible …” Ben dan Gun terbahak.
“Feasible artinya dapat dieksekusi atau dilaksanakan, Jo!”
“Nih contoh-contoh energi alternatif, harapanku sih PLN bisa mengaplikasikannya di masa depan. Jangan sampai jadi Perusahaan Lilin Negara” Ujar Gun.

1. Energi Pasang surut
2. Energi Termal lautan
3. Energi Angin
4. Energi Surya
5. Energi dari sampah
6. Energi dari tanaman
7. Energi dari bumi (geothermal)
8. Energi dari hidrogen
9. Energi nuklir

Mulai dari Energi pasang surut, mengingat negara kita dalah negara kepulauan yang kaya akan laut. Pasang dan surut air laut seperti sudah kita pelajari di jaman SD dulu adalah akibat dari adanya gravitasi bulan yang menarik air di lautan dunia. Pada sisi yang dekat dengan matahari, air akan membentuk tonjolan akibat gaya tersebut. Nah, karena rotasi bumi pada porosnya setiap hari, tonjolan itu akan “melintasi” lautan mengitari bola dunia.
Berdasarkan perkiraan, kapasitas energi dari pasang surut ini mencapai 1000 GW.

Cara Kerja
Cara menangkap energi dari pasang surut ini adalah dengan memasang jajaran turbin-turbin besar di bawah permukaan air laut. Peletakannya adalah di area yang memiliki arus pasang kuat. Lokasi bisa di selat antar pulau atau di sekitaran tanjung.

Proyek yang pernah dan sudah ada
Bangunan La Rance di Brittany, menghasilkan 240MW untuk 30 tahun terakhir
Proyek Severn di inggris, diproyeksikan menghasilkan 9 GW, tapi tidak berlanjut karena dana.

“Wah sepertinya mahal, ga mampu kita” Seru Dalijo.

BYARR!! Tiba-tiba lampu menyala..
“Hore nyala…” Serempak para pengunjung angkringan bersorak.
“Wah seru juga ya obrolan kita, sampai listrik nyala lagi”
“Iya, ayo dah nyala nih balik kamar ngerjain presentasi buat besok. Energi alternatifnya dilanjut lain kali”
“Ini Jo, duitnya nasi satu, gorengan empat sama teh jahe” Ben mengulurkan uang ke Dalijo.

“Lho mas ini di baki dah kosong, masa cuma empat gorengan yang dimakan” Heran Dalijo.
“Wah iyo tadi ga keliatan Jo, gelap je..” Ben lari ke kosan sambil terbahak.
“Woiyy woiyy bayar mas!” Dalijo geragapan sambil ngelempar sendal.

===

Link Referensi :

1. Rasio elektrifikasi (ESDM)

2. Energi Tidal Wave

3. PLN defisit pasokan gas

4. Pemadaman karena trafo terbakar di Ujung Berung

5. Reformasi Pelayanan Konsumen Listrik, YLKI (www.plnbersih.com)