Sebuah status dari seorang kawan beberapa waktu lalu, yang memakai kata “expertise” memantik rasa ingin memikirkannya lebih dalam.

Kata ini kumaknai keterampilan/ keahlian seseorang dalam kehidupan.

Keahlian menjadi lekat dengan adagium ‘There is no such thing as a free lunch’. Tak ada yang gratis di dunia ini. Kalau mau makan kita harus berusaha dan Jika ingin hidup layak, seharusnya seseorang memiliki keahlian yang akan menopang kehidupannya.

Jika tak memilikinya jangan menyesal jika tergilas jaman.
Demi mendapatkannya orang rela menghabiskan dana yang besar. Mindset orang sekarang, kejarlah keterampilan melalui sekolah & pendidikan formal. Lalu bagaimana yang informal?

Apakah mereka akan kalah dalam persaingan ‘makan siang.’
Sebelumnya saya termasuk yang menganggap jalur formal adalah segalanya. Berpendidikan di lembaga favorit lalu bekerja di perusahaan besar. Makan siang pasti aman!

Namun akhir-akhir ini terpikir, pekerja di kantor/perusahaan itu sebenarnya hanya bagian dari sistem. Mereka komponen kecil yang menjaga sistem bekerja. Jika organisasi itu mengalami malfungsi atau bubar, mampukah komponen-komponen itu survive dengan kesendiriannya. Atau jika ditarik kembali ke judul post ini… benarkah para ‘minion’ itu memiliki expertise yang cukup untuk bertahan hidup?

Saya sedikit berputar-putar di sini…baiklah lebih mudahnya kita ambil contoh nyata.
Saya dulu seorang test engineer new model perusahaan sepeda motor. Salah satu pekerjaannya yakni melakukan evaluasi ergonomi kemudian membuat report. Pekerjaan ini penting bagi perusahaan, namun benarkah ia memberi expertise yang cukup riil untuk bertahan hidup?
Jika semua perusahaan otomotif tutup, tentu saya tidak bisa mengandalkan kemampuan ini untuk langsung menghasilkan uang. Pekerjaan ini sangat spesifik di bidang tertentu & hampir mustahil menjadikannya usaha mandiri.
Contoh di atas hanyalah untuk menunjukkan expertise yg dependent. Meskipun sebagai Test engineer tentu memiliki expertise lain yang lebih riil & memiliki peluang jadi usaha mandiri.
Sebagai pembanding ekstrim, seorang yang memiliki expertise memijat misalnya, tentu di mana saja dia bisa menghasilkan uang. Karena experrtise nya tak dependent.
Ini membuat berpikir, ketika bekerja di pekerjaan sekarang apakah saya sedang memahat keahlian saya? Atau semata mengerjakan bagian pekerjaan yang ditukar dengan gaji di awal bulan.
Sebuah contoh menarik datang dari Salatiga. Dua bersaudara berpendidikan SMK membuat jasa desain engineering berjuluk D-tech Engineering. Luar biasanya, mereka memenangi kompetisi desain dari GE!
Tanpa latar belakang formal pendidikan engineering, mereka mengembangkan skill sendiri di tengah keterbatasan.

Sekali lagi ini membuka mata dan memicu pertanyaan pada diri sendiri. Apakah ketika bekerja saya sedang memahat expertise sendiri atau rutinitas belaka?

Karena kadang kita terlena, bekerja dan memiliki penghasilan tapi ternyata keahlian kita semu. Hanya melakukan pekerjaan administratif/ meeting.

Memiliki expertise berarti naik ke tingkatan lebih tinggi. Bisa mandiri dan bahkan bisa membuatkan lapangan kerja bagi orang lain. Secara keilmuan juga mumpuni dan membebaskan.

Contoh seorang dokter.. tanpa RS pun ia tetap seorang dokter. Berbeda dengan engineer power plant…tanpa pembangkit..ia tak bisa berfungsi laiknya engineer.

Berikut ini contoh sosok-sosok yang menginspirasi untuk meraih keterampilan-walau di luar engineering :

1. Ndop, alias Mudzofar.
Seorang seniman vektor dari Nganjuk. Meski tak berlatarbelakang formal seni, ia berhasil memperoleh pendapatan melalui keahliannya membuat vektor dari foto.
Sempat DO dari Statistika ITS, ia menemukan passion di dunia seni vektor. Kini dari kamarnya di kota sepi Nganjuk, order berdatangan dari penjuru dunia. Ia memiliki minat, menekuninya hingga ahli sehingga ta
npa terikat pada orang lain/perusahaan dia bebas mengatur waktu kerjanya. Bebas macet, bebas stress.
2. Prof Endri Rahman (berpendidikan formal sih).
Beliau ahli drone. Konsisten pada bidang ini sehingga kini bisa membuat drone from the scratch. Semuanya mulai dari struktur, logika terbang hingga komponen elektronik dan kontrol sudah berhasil dikuasai. Ia mandiri dalam arti tak sekedar merakit komponen impor.

Benang merah dari sample di atas mereka sama-sama memiliki :
1. Minat khusus & spesifik
2. Fokus
3. Melakukannya terus menerus
4. Konsisten

Karena ada yang mengatakan Keahlian baru akan dapat dikuasai setelah 10.000jam kerja.


2. Sweta Kartika