Jika ditanyakan kepada penduduk Jakarta apa yang paling mengganggu bila tinggal di jakarta maka kebanyakan akan menjawab sepakat bahwa lalulintas adalah yang paling mengesalkan. Volume kendaraan yang terus meningkat tidak diimbangi dengan ruas jalan plus diperparah oleh perilaku pengguna jalan menjadikan Jakarta kota yang semrawut dalam lalu lintas.
Tidak hanya kerugian dalam hal waktu dan bahan bakar muncul sebagai ekses dari kemacetan ini. Jalan raya di Jakarta dan Indonesia pada umumnya telah menjelma menjadi senjata pembunuh. Data Asian Development Bank menyebutkan di tahun 2003 sekitar 1.000.000 korban luka dan 30.000 korban meninggal (Asia Development Bank 2003).
Merujuk dari data Kompas tahun 2006, jumlah kendaraan bermotor di Jabodetabek mencapai 7.840.671 dan sebanyak 5.194.011 adalah kendaraan roda dua. Di Jakarta sendiri jumlah kendaraan bermotor 4.276.133 dan di antaranya 2.718.864 adalah sepedamotor.
Melihat data di atas kita tidak bisa hanya menyalahkan dan mencari kambing hitam dari masalah ini. Kecelakaan berkendara sedang bergerak menjadi penyebab kematian utama. Bahkan WHO memprediksi kecelakaan lalulintas akan menjadi nomer tiga setelah penyakit jantung dan unipolar major depression. Jika kita tidak melakukan sesuatu akan ada lebih banyak nyawa melayang di jalanan. Dan itu harus dimulai dari diri sendiri.
Berikut beberapa tips safety driving dan eco driving untuk keselamatan dan penghematan bahan bakar dari DSFL Indonesia (Drive Safe for Life)
1. menggunakan seat belt
2. Memanfaatkan kaca spion
3. membentuk sikap pengemudi yang defensive
4. Menghindarkan gangguan dalam berkendara
5. Menjaga jarak aman saat mengemudi
6. Mengoperasikan gigi transmisi ideal
7. menggunakan momentum kendaraan
8. Mematikan mesin kendaraan saat stop
9. Pre start checks
10. Mengurangi beban berlebihan









